RSS

Mengemis Bukan Suatu Pilihan Tepat

02 Mar
Hampir setiap hari kita membicarakan masalah gelandangan, pengemis dan anak jalanan  yang sudah lama hadir dan menggema dikalangan masyarakat. Bahkan hampir seluruh kota, Perasaan apa yang harus ditunjukan kepada mereka? Apakah perasaan sedih, iba, gembira, atau prihatin melihat keadaan hidup mereka yang seadanya. Dengan menggunakan pakaian yang “compang-camping”  dengan hanya berharap belas kasihan kepada orang berhati dermawan.
Sebutan apa yang harus pantas diberikan kepada mereka yang tidak mempunyai tempat tinggal yang pasti, tidak mempunyai penghasilan tetap serta tidak mengenyam pendidikan, yang hanya mengharapkan uluran tangan orang-orang yang berhati dermawan kalau bukan disebut dengan “gelandangan” bahkan lebih parah disebut “gembel”. Pada umumnya gelandangan dan pengemis adalah orang-orang desa yang mencoba mengadu nasib dikota namun karena minimnya pendidikan, kurangnya lapangan kerja dan tidak mempunyai modal atau skill sehingga mereka terpaksa untuk “Menggelandang” dan mengemis.
Berbagai alasan yang diutarakan kenapa mereka tidak mempunyai tempat tinggal sehingga altenatif pilahan mereka adalah harus tinggal dikolong jembatan, di pinggir jalan, stasiun kereta api, dan tempat-tempat umum lainnya. Dengan hanya menggunakan potongan-potongan kardus bekas, plastik dan atribut-atribut yang seadanya. Mencari penghasilan dengan mengorek-ngorek sampah, menjadi pemulung.
Berbagai faktor yang menyebabkan mereka “menggelandang” yang paling mendasar adalah faktor ekonomi. Karena kurangnya lapangan pekerjaan, kebutuhan hidup yang tidak terpenuhi. Adakah kesempatan kerja bagi mereka yang mencari jalan keluar dari garis kemelaratan.
Kemudian faktor pendidikan. Rendahnya tingkat pendidikan menjadikan minimnya pengetahuan dan keterampilan untuk hidup yang layak serta kurangnya pendidikan informal dalam lingkungan keluarga dan masyrakat. Kita bisa melihat anak-anak yang seharusnya bersekolah malah berkeliaran dijalan hanya untuk mengais rejeki dari belas kasihan orang lain. Bahkan orang tua mereka sendiri tega menyuruh anak-anak mereka menjadi peminta-minta.
Faktor sosial juga sangat berperan ditengah arus urbanisasi yang meningkat dan minimnya partisipasi antar masyarakat.
Untuk menyikapi masalah gelandangan pengemis (gepeng) dan anak jalanan bukan hanya pemerintah saja yang terlibat tetapi masyarakat ikut serta dalam mengatasi isu kesejahteraan sosial ini.
Sikap apa yang harus kita tunjukan kepada mereka. Apakah kita harus empaty atau kesal dengan keadaan gelandangan pengemis dan anak jalanan seperti itu?
Menjadi pengemis dan gelandangan bukanlah suatu pilihan. Siapa didunia ini yang mau hidupnya hanya dihabiskan untuk mengemis dan menjadi gelandangan. Kalau saja pemerintah mendengar keluhan hati mereka yang ingin sekali berteriak dan berkata “kalian sangat beruntung terlahir dari keluarga kaya yang sekarang yang mempunyai hidup yang berkecukupan yang bisa menikmati bangku sekolahan yang sudah mencicipi pendidikan. Tidak kah kalian sadari kami yang terlahir dari keluarga miskin dari keluarga gelandangan hanya dengan memulung dan mengemis kami bisa makan untuk sesuap nasi.”
            Namun kondisi seperti inilah yang banyak dimaanfaatkan preman jalanan yang meraup keuntungan dalam kondisi seperti ini. Dengan “bangga” mereka mamanfaatkan anak-anak jalanan untuk menjadi pengemis.
Lantas salah siapa, siapa yang patut untuk disalahkan? Apakah pemerintah yang tidak melihat kaum yang berada pada garis kemelaratan? Atau kaum-kaum elit yang enggan berbagi kepada mereka?
            Gelandangan, pengemis dan anak jalanan sudah lama mendapatkan perhatian dari pemerintah, bahkan sampai beranggapan bahwa gelandangan dan pengemis itu adalah sampah kota yang bisanya hanya mengotori lingkungan perkotaan, membuat kumuh bukan saja tidak sedap dipandang mata namun menjadi masalah yang serius yang harus dicari pemecahan permasalahannya bersama.
            Jika pemerintah mengeluarkan Peraturan daerah seperti halnya di Yogyakarta yang mengedepankan pariwisata sebagai potensi unggulan. Pemerintah daerah Yogyakarta membuat rancangan peraturan daerah tentang penanggulangan gelandangan, pengemis dan anak jalanan sehingga tidak menggagu ketertiban  agar para wisatawan tidak merasa terganggu.
Maka pemerintah akan dinilai sangat kejam dalam menindaki masalah-masalah gelandangan dan pengemis. Dengan mengatas namakan ketertiban, sehingga pemerintah dapat seenaknya sendiri mengeluarkan peraturan-peraturan yang dapat menghapus ladang penghidupan kaum jalanan. Sudahkah pemerintah memenuhi kewajibannya dalam memenuhi hak-hak dasar kaum jalanan yang telah terjamin oleh UUD  yakni Pekerjaan dan penghidupan yang layak.
            Hal yang paling mendasar yang harus di perhatikan pemerintah daerah adalah bagaimana jika nanti peraturan daerah yang telah mereka tetapkan, kemudian melakukan razia terhadap para gelandangan, pengemis dan anak jalanan dan mereka terkumpul dalam jumlah yang sangat banyak apakah pemerintah akan mampu memenuhi hak mereka? Kemudian menyalurkan ke daerah asal atau kepanti rehabilitasi dan resosiliasi, apakah pemerintah mempunyai dana untuk memulangkan mereka ke daerah asalnya?  Apakah ada tempat tinggal yang layak bagi mereka? Apakah ada lapangan kerja bagi mereka? Apakah ada yang mengurusi mereka setelah mereka ditampung atau malah sebaliknya. Pemerintah malah sibuk dengan saling melempar tanggung jawab atas peraturan yang mereka buat sendiri. Pertanyaan itu terkesan dalam maknanya yang seharusnya sudah disanggupi pemerintah.
            Seharusnya pemerintah sudah memepersiapkan semuanya dari masalah sarana dan prasana, membetuk kerja sama antara sesama instansi Pemerintah daerah. Tidak dengan cara kekerasan yang dapat melanggar Hak Asai Manusia.
            Banyak hal yang dapat dilakukan selain dengan melakukan penetapan peraturan yang tidak jelas, seperti memberi bantuan kepada organisasi-organisasi sosial, memberikan kesempatan untuk berekspresi dengan catatan tidak melanggar ketentuan Hak Asasi Manusia (HAM). Membina mereka agar dapat memiliki keterampilan dan bisa berkarya.

Masalah sosial pada gelandangan, pengemis dan anak jalanan perlu dicarikan solusi yang tepat secara bijak jangan terus-menerus menjadi generasi yang mempunyai mental “mengemis”. Siapapun. Bukan hanya pemerintah yang turun tangan tetapi masyarakat yang  mempunyai rasa peduli. Karena rasa peduli itu adalah awal pemberdayaan gelandangan, pengemis, dan yang paling penting adalah anak-anak jalanan yang akan menjadi generasi penerus bangsa.

 
Leave a comment

Posted by on March 2, 2013 in Ekonomi, Sosial

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: